kursor

iNi DiA..!!!!!

iNi DiA..!!!!!
ciiiLuuK baaaa...!!!!

Selasa, 28 Februari 2012

Makalah Pembentukan atau perkembangan tulang dan muskulus skeletal


MAKALAH
Pembentukan atau perkembangan tulang dan muskulus skeletal
Pembimbing:
Mulia Hakam, M.kep.,Sp.KMB

Oleh :
Moch Dika Priskia
(100501088)


PRODI SI KEPERAWATAN
KELAS II B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN(STIKES)
PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG
TAHUN AKADEMIK 2010 - 2011
KATA PENGANTAR
Rasa syukur saya sampaikan kehadiran Tuhan Yang Maha Pemurah karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini saya membahas  perkembangan tulang dan muskulus skeletal sepanjang daur hidup manusia”.
Dalam  proses pendalaman materi ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.Bapak Mulia Hakam,S.Kep.Ns,.M.Kep.,Sp.KMB selaku dosen pembimbing mata kuliah Sistem Muskuluskeletal
2.Semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungan kepada kami.
Harapan saya dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang memberikan bantuan serta dukungan dalam penyusunan makalah ini.


Jombang, 19 saptember 2011

                     Penulis,

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  latar belakang
Pertumbuhan dan maturasi tulang merupakan pengertian dari bedah ortopedi. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses morfologik yang unik serta melibatkan perubahan biokimia.
          Sistem rangka berkembang dari mesenkim,yang berasal dari lapisan benih mesoderm dan drkrista neuralis. Beberapa tulang,seperti tulang pipih tengkorak,mengalami penulangan membranosa,yaitu sel-sel mesenkim langsung berubah menjadi osteoblas. Pusat-pusat penulangan timbul di dalam model-model kartilago ini secara perlahan-lahan tulang tersebut mengalami penulangan endokondral. Kolumna vetebralis dan iga-iga berkembang dari kompartemen sklerotom dari somit.
Tengkorak terdiri dari atas neurokranium dan viserokranium(wajah),neurokranium mencakup bagian membranosa yang membentuk kubah kepala,dan bagian kartilaginosa(kondrokranium) yang membentuk dasar tengkorak.
1.2  Rumusan masalah
v  Bagaimana perkembangan tulang dan muskulus skeleta?
v  Bagaimana pertumbuhan tulang selama daur hidup manusia?
v  Apa sajakah kelainan-kelainan pada tulang?
1.3  Tujuan penulisan
Ø  Mengetahui perkembangan pembentukan tulang dan muskulus skeletal.
Ø  Memahami pertumbuhan tulang selama daur hidup manusia.
Ø  Mengetahui kelainan atau penyakit yang terjadi pada tulang dam muskulus skeletal.



BAB II
LANDASAN TEORI
Tulang sebagai jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh matrix kolagen ekstraselular (type I collagen) yang disebut sebagai osteoid. Osteoid ini termineralisasi oleh deposit kalsium hydroxyapatite, sehingga tulang menjadi kaku dan kuat.
Sel-sel pada tulang adalah : 
Osteoblast : yang mensintesis dan menjadi perantara mineralisasi osteoid. Osteoblast ditemukan dalam satu lapisan pada permukaan jaringan tulang sebagai sel berbentuk kuboid atau silindris pendek yang saling berhubungan melalui tonjolan-tonjolan pendek. 
Osteosit : merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Mempunyai peranan penting dalam pembentukan matriks tulang dengan cara membantu pemberian nutrisi pada tulang. 
Osteoklas : sel fagosit yang mempunyai kemampuan mengikis tulang dan merupakan bagian yang penting. Mampu memperbaiki tulang bersama osteoblast. Osteoklas ini berasal dari deretan sel monosit makrofag.
Sel osteoprogenitor : merupakan sel mesenchimal primitive yang menghasilkan osteoblast selama pertumbuhan tulang dan osteosit pada permukaan dalam jaringan tulang.
Tulang membentuk formasi endoskeleton yang kaku dan kuat dimana otot-otot skeletal menempel sehingga memungkinkan terjadinya pergerakan. Tulang juga berperan dalam penyimpanan dan homeostasis kalsium. Kebanyakan tulang memiliki lapisan luar tulang kompak yang kaku dan padat. 
Tulang dan kartilago merupakan jaringan penyokong sebagai bagian dari jaringan pengikat tetapi keduanya memiliki perbedaan pokok antara lain :
Tulang memiliki system kanalikuler yang menembus seluruh substansi tulang.
Tulang memiliki jaringan pembuluh darah untuk nutrisi sel-sel tulang.
Tulang hanya dapat tumbuh secara aposisi.
Substansi interseluler tulang selalu mengalami pengapuran.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pembentukan perkembangan tulang dan muskulus skeletal
Embriologi merupakan cabang dari ilmu yang mempelajari perkembangan embrio. Proses pembentukan, pertumbuhan, maturasi tulang
Sistem muskulus skeletal sistem otot berkaembang dari lapisan benih mesoderm (kecuali otot–otot iris, yang terbentuk dari ekstoderm piala optik dan terdiri dari otot rangka,otot polos, dan otot jantung, otot rangka berasal dari  mesoderm paraksial, yang membentuk somit dari daerah oksipital ke sakral dan somitomer dikepala. Otot polos berdeferensisai daro mesoderm splanknik disekitar usus dan derivat-derivatnya, dan otot jantung berasal dari mesoderm splanknik disekitar tabunh jantung.
3.1.1Fase pembentukan tulang
Pada fase awal pembentukan terjadi pada minngu k-3 yaitu terbentuk tiga lapisan  yaitu:
-        Eksoderm
-        Mesoderm
-        Endoderm
Sehingga membentuk lulang rawan.Awalnya somit dan somiomer membentuk otot-otot untuk rangkan aksila, dinding tubuh  anggota badan dan dan kepala. Dari daerahoksipital ke kaudal. Somit membentuk dan derdefisiensi menjadi sklerotum dan dermomiotom. Sel miotom pada dinding tubuh dan daerah ekstremitas berdisosiasi. Begerakke tempatnya yang pasti, dan menjadi memanjang serta membentuk gelendong, sel-sel ini yang disebut mioblas saling menyatu dan membentuk serabut otot panjang yang berinti majemuk.
 Miofibril segera nampak dalam sitoplasma dan menjelang akhir bulan ke-3 nampak gambaran seran lintang yang khas untuk otot rangka. Proses serupa terjadi pula pada tujuh somitomer yang terletak didaerah kepala disebelah rostral somit- somit oksipital. Tetapi struktur somitomer tatap longgar, tidak pernah terpisah-pisah menjadi segmen-segmen sklerotom dan dermiotom. Pola otot dikendalikan oleh jaringan penyambung dimana mioblas bermigrasi. Didaerah kepala, jaringan penyambung ini berasal dari sel-sel krista neuralis : didaerah servikal dan oksipital. Berasal dari moseoderm somit : dan didinding tubuh serta anggota badan, berasl dari mesodrm somatik .
Pada minggu kelima terbentuk tonjolan ( lim bud) tulang rawan terdiri dari Hialin, Fibrin, Elastin. Menjelang akhir miggu ke-5, setiap miotom terbagi menjadi satu bagian dorsal yang kecil, epimer, dan satu bagian vetral yang lebih besar, hipomer, yang terbentuk karena migrasi sel- sel miotom. Saraf –saraf yang mempersarafi otot-otot sekmental juga dibagi menjadi samus dorsalis primer untuk epimer, dan ramus vetralis primer untuk hipomer.
Mioblas-mioblas dari epimer membentuk otot ekstrensor tulang belakang, sedangkan yang berasal dari hipomer membentuk sistem otot fleksor leteral dan ventral. Mioblas dari hhipomer servikal membentuk otot skalelus, geniohioideus muskuli paravertebrali. Mioblas yang berasal dari segmen toraks terbagi menjadi tiga lapisan  yang didada diwakili oleh M. Interkostalis eksterna, M.interkostalis interna, dan M. Interkostalis bagian dalam atau M. Transversus torakis . pada dinding perut, ketiga lapisan otot ini terdiri atas M. Oblikus eksternus, M. Oblikis internus. Dan M. Trasfersus abdomis.
Pada perkembangan minggu ke tujuh terbentuk tulang melalui  2 tahap :
ü  Langsung : terbentuknya dalam bentuk lembaran-lembaran , misalnya : tulang muka, pelvis, skapula, tulang tengkorak.
ü  Tidak langsung : . obsifikasi sentra terjadi melalui oksifikasi endokondral. obsikasi perifer terjadi dibawah perikondral.
Otot –otot anggota badan diamati pada minggu k-7 sebagai pemadatan masenkim didekat tunas anggota badan. Masenkim ini berasal dari sel-sel darmomiotom somik yng bermigrasi ketunas anggota badan untuk membentuk otot. Seperti didaerah lainnya, jaringan penyambung menentukan pola pembentuk otot, dan jaringan ini berasal dari mesorerm somatik, yang juga menghasilkan tulang-tulang anggota badan.


3.1.2 Pertumbuhan dan Remodelling Tulang
a.       Pertumbuhan memanjang tulang
Pertumbuhan memanjang / proses osifikasi endokondral pada tulang rawan. Proses ini terjadi pada dua lokasi : 1. tulang rawan artikuler (sendi) 2. Terjadi ditulang-tulang pendek ex : karpal 3. Lempeng epifis (epiphyseal plate) . dengan memeajangja tunas anggota badan, jaringan otot terpecah menjadi komponen fleksor dan ekstensor. Sekalipun pada mulanya otot-otot anggota badan memiliki sifat bersegmen, denga berjalannya waktu otot-otot ini bersatu dan kemudian tersusunlah jaringan otot. Yang berasal dari berbagai segmen.
ü  Tulang rawan artikuler
Pertumbuhan tulang panjang terjadi pada daerah tulang rawan artikuler dan merupakan tempat satu-satunya bagi tulang untuk bertumbuh pada daerah epifisis.
ü  Tulang rawan lempeng epififis
          Memberikan kemungkinan metafisis dan diafisis untuk bertumbuh memanjang. Pada daerah pertumbuhan ini terjadi keseimbangan antara dua proses yaitu:
Ø Proses pertumbuhan: adanya pertumbuhan interstisial tulang rawan dari lempeng epifisis memungkinkan terjadinya penebalan tulang
Ø Proses klasifikasi: kematian dan penggantian tulang rawan pada daerah permukaan metafisis terjadi melalui proses osifikasi endokondral.
Ada 3 zona lempeng epifisis
ü Zona pertumbuhan
ü Zona transportasi tulang rawan
ü Zona osifikasi
B.     Pertumbuhan melebar tulang
Pertumbuhan melebar terjadi akibat pertumbuhan aposisi osteoblas pada lapisan dalam periosteum dan merupakan suatu jenis osifikasi intramembran.
C.     Remodelling tulang
Selama pertumbuhan memanjang tulang daerah metafisis mengalami remodelling (pembentukan) dan pada wktu bersamaan epifisis menjauhi batang tulang secara progresif. Proses remodelling tulang berlangsung sepanjang hidup,dimana pada anka-anak dalam masa pertumbuhan terjadi keseimbangan (balance) yang positif sedangkan pada orang dewasa terjadi keseimbangan yang negatif,remodelling juga terjadi setelah penyembuhan fraktur. Pada anak-anak meskipun ada kelainan hebat,remodelling tetap terjadi secara spontan kecuali bila terdapat kelainan rotasi.
3.2. Tahap pertumbuhan selama daur kehidupan
3.2.1 Pertumbuhan Tulang Pada Bayi
Pada waktu lahir, tulang-tulang pipih tengkorak dipisahkan satu dengan lainnya oleh perekat tipis dari jaringan penyambung, yaitu sutura yang juga berasal dari Krista neuralis. Di tempat-tempat pertemuan lebih dari dua tulang, suturanya lebardan dikenal sebagai ubun-ubun(fontanella). Ubun- ubun yang paling mencolok adalah ubun-ubun besar(fontanella anterior), yang terdapat pada tempat pertemuan dua tulang parietal dan dua tulang frontalis. Sutura dan ubun-ubun memungkinkan tulang-tulang tengkorak saling bertumpah tindih(suatu proses yang disebut molase) selama proses persalinan.segera setelah lahir, tulang-tulang membranosa bergerak kembali ke posisi asalnya dan sehingga tengkorak tampak besar dan bulat. Sebenarnya ukuran kubah sangat besar bila di bandingkan daerah muka yang kecil. Beberapa sutura dan ubun-ubun tetap seperti membrane dalam waktu yang cukup lama setelah lahir. Pertumbuhan tulang-tulang kubah terus berlangsung setelah lahir dan terutama disebabkan oleh pertumbuhan otak. Walaupun seorang anak berusia 5-7tahun hampir sudah memiliki semua kapasitas tengkoraknya, beberapa sutura masih tetap terbuka hingga usia dewasa. Pada beberapa tahun pertama setelah lahir, palpasi ubun-ubun besar dapat memberikan informasi yang bermanfaat mengenai apakah penulangan tengkorak berlangsung normal dan apakah tekanan di dalam normal.
·         Femoral anteversi pada saat lahir akan memiliki sudut sekitar 30 sampai 40. Dikarenakan intrauterin biasanya hip eksternal rotasi positif, maka pada saat pemeriksaan infan akan terlihat hip lebih eksternal rotasi.
·         Jaringan lunak hip eksternal rotasi yang kontraktur akan berkurang lebih dari 1 tahun pertama kehidupan seorang anak selanjutnya meningkat menjadi internal rotasi diharapkan femoral anteversi akan menjadi semakin terlihat.
·         Ada penurunan secara bertahap femoral anteversi dari 30 sampai 40 pada saat lahir kemudian menjadi 10 sampai 15 pada adolesen awal dan puncak perbaikan terjadi sebelum usia 8 tahun.
3.2.2        Pertumbuhan Tulang Pada Anak
Perawatan anak-anak dengan masalah muskuloskeletal masih menjadi bagian tak terpisahkan dari bedah ortopedi modern. Banyak fraktur dan cedera yang terjadi pada anak akibat tingkat aktivitasnya yang tinggi dan rangka yang unik yang belum sempurna. Perawatan fraktur pada anak berbeda daripada orang dewasa karena growth plate yang aktif di tulang mereka. Kerusakan pada growth plate dapat menimbulkan masalah signifikan dengan pertumbuhan tulang yang terlambat, dan fraktur risiko harus dimonitor dengan perawatan.
Perawatan skoliosis adalah aliran utama dalam ortopedi anak. Atas alasan yang kurang dimengerti, pertumbuhan lengkung tulang punggung pada beberapa anak, yang jika dibiarkan tak terawat dapat menimbulkan cacat yang tak diharapkan dan dapat terus menyebabkan nyeri kronis yang akut dan masalah pernafasan. Perawatan skoliosis cukup rumit dan sering melibatkan gabungan penjepitan dan pembedahan.
Anak-anak memiliki keadaan muskuloskeletal unik lain yang menjadi fokus ortopedi sejak masa Hippocrates, termasuk keadaan seperti kaki pekuk dan dislokasi pinggul kongenital (juga dikenal sebagai displasia pertumbuhan pinggul). Di samping itu, infeksi pada tulang dan sendi (osteomielitis) pada anak juga umum. Di Amerika Serikat, rumah sakit khusus seperti Shriners Hospitals for Children telah menyediakan bagian substansial perawatan anak dengan cacat dan penyakit muskuloskeletal.
3.2.3        Pertumbuhan Tulang Pada Remaja
Pertumbuhan linear atau tinggi badan, hampir seluruhnya terjadi akibat pertumbuhan tulang rangka dan dianggap sebagai pengukuran pertumbuhan umum yang stabil. Pertumbuhan tinggi badan tidak terjadi terus-menerus disepanjang kehidupan tetapi berhenti jika maturasi tulang rangka sudah selesai. Pertumbuhan panjang yg maksimal terjadi sebelum kelahiran, tetapi bayi baru lahir terus tumbuh dengan kecepatan yang cepat meskipun lebih lambat.
3.2.4        Pertumbuhan Tulang Pada Dewasa
Pada masa anak-anak sampai usia remaja, secara normal mineral tulang akan meningkat secara progresif sam-pai mencapai puncaknya pada usia 25 – 28 tahun (wanita) dan usia sekitar 30 – 35 tahun (laki-laki) menurut beberapa ahli puncak kepadatan tulang bervariasi. Menurut beberapa peneliti, kemunduran kepadatan tulang & kekuatan tulang yg progresif (laki-laki & wanita) mulai terjadi pada awal usia 20-an. Penurunan kepadatan tulang akan disertai dengan meningkatnya porositas tulang. Wanita cenderung memiliki tulang yang lebih kecil & area tulang kortikal yang lebih kecil daripada laki-laki. Perubahan kekuatan tulang juga terjadi pada laki-laki tetapi laki-laki mengalami perubahan yang tidak terlalu signifikan dibandingkan wanita
3.2.5        Pertumbuhan Tulang Pada Lansia
Massa tulang kontinu sampai mencapai puncak pada usia 30-35 tahun setelah itu akan menurun karena disebabkan berku¬rang¬nya aktivitas osteoblas sedangkan aktivitas osteoklas tetap normal. Secara teratur tulang mengalami turn over yang dilaksana¬kan melalui 2 proses yaitu; modeling dan remodeling, pada ke¬adaan normal jumlah tulang yang dibentuk remodeling sebanding dengan tulang yang dirusak. Ini disebut positively  coupled jadi masa tulang yang hilang nol. Bila tulang yang dirusak lebih banyak terjadi kehilangan masa tulang ini disebut negatively  coupled yang terjadi pada usia lanjut.
Dengan bertambahnya usia terdapat penurunan masa tulang secara linier yang disebabkan kenaikan turn over pada tulang sehingga tulang lebih pourus. Pengurangan ini lebih nyata pada wanita, tulang yang hilang kurang lebih 0,5 sampai 1% per tahun dari berat tulang pada wanita pasca menopouse dan pada pria diatas 80 tahun, pengurangan tulang lebih mengenai bagian trabekula dibanding dengan kortek. Pada pemeriksaan histologi wanita pasca menopouse dengan osteoporosis spinal hanya mempunyai trabekula kurang dari 14%. Selama kehidupan laki-laki kehilangan 20-30% dan wanita 30-40% dari puncak massa tulang.
Pada sinofial sendi terjadi perubahan berupa tidak ratanya permukaan sendi terjadi celah dan lekukan dipermukaan tulang rawan. Erosi tulang rawan hialin menyebabkan pembentukan kista di rongga sub kondral. Ligamen dan jaringan peri artikuler menga¬lami degenerasi Semuanya ini menyebabkan penurunan fungsi sendi, elastisitas dan mobilitas hilang sehingga sendi kaku, kesu¬litan dalam gerak yang rumit.
Perubahan yang jelas pada sistem otot adalah berkurangnya masa otot terutama mengenai serabut otot tipe II. Penurunan ini disebabkan karena otropi dan kehilangan serabut otot. Perubahan ini menyebabkan laju metabolik basal dan laju komsumsi oksigen maksimal berkurang. Otot menjadi mudah lelah dan kecepatan laju kontraksi melambat. Selain penurunan masa otot juga dijumpai berkurangnya rasio otot dan jaringan lemak.
Lanjut usia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikarunia usia panjang, terjadi tidak bisa dihindari oleh siapapun, namn manusia dapat berupaya untuk menghambat kejadiannya. Menua (menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dann fungsi normal sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memkperbaiki kerusakkan yang diderita. (Sampoernae.blogspot, 2008).
Ø    Sistem Muskuluskeletal
Mobilitas merupakan salah satu yang paling penting dari aspek fungsi Physiologi, karena merupakan hal yg paling utama untuk memelihara kemandirian, dan akan terjadi akibat yang serius ketika kemandirian hilang.Untuk orang tua, mobilitas mempengaruhi untuk derajat kecil oleh perubahan yang berhubungan dengan umur dan yang paling besar oleh factor resiko, Karenna banyak factor resiko yang mengancam mobilitas, jatuh adalah merupakan kejadian yangpaling umum pada lanjut usia. Orang tua mempunyai tantangan dobel dalam ketrampilan memelihara mobilitas dan memelihara posisi yang benar ketika mereka berjalan. Untuk alasan ini, keselamatan merupakan pertimbangan secara menyeluruh dari aspek mobilitas.
Tulang, Sendi dan otot adalah struktur tubuh yang paling banyak berhubungan dengan mobilitas. Tetapi banyak aspek fungsi lain yang termasuk pada keselamatan mobilitas. Fungsi neurology sebagai contoh mampu mempengaruhi semua masalah penampilan muskuloskelethal, dan fungsi penglihatan mempengaruhi kemampuan untuk keselamatan berinteraksi dengan lingkungan. Dalam sistem muskulokelethal, osteoporosis merupakan perubahan yang berhubungan dengan umur berdampak paling besar secara keseluruhan.




Ø    Perubahan pada sistem muskuloskeletal antara lain sebagai berikut :
I. Tulang
Tulang menyediakan kerangka untuk semua sistem muskuloskelethal dan bekerja terhubung dengan sistem otot untuk memfasilitasi pergerakan. Fungsi tambahan tulang pada tubuh manusia adalah penyimpanann calcium, produksi sel darah, dan mendukung serta melindungi jaringan dan organ tubuh. Tulang terbentuk dari lapisan luar yang keras disebut cortical atau tulang padat, dan di bagian dalm terdapat spongy berlubang yang disebut trabecular. Bagian cortical terhadap komponen tabecular berubah berdasrkan tipe tulang. Tulang panjang misalnya, radius dan femur, mengandung sebanyak 90% corticol, sedangkan tulang vertebrata susunan utamanya adalah sel trabecular. Corticol dan trabecular merupakan komponen tulang yang berpengaruh pada lansia.
Pada lansia terdapat perubahan pada susuanan pembentukan tulang, yaitu :
a)Tulang cortical
Mulai umur 40 tahun, terjadi perubahan penurunan sejumlah tulang
ü cortical 3 % perdecade pada laki-laki dan wanita berlanjut terus sampai ahir dewasa
Setelah menopause, Wanita terjadi penambahan
ü penurunan/ kehilangan tulang cortical, sehingga jumlah rata-rata penurunan mencapai 9% sampai 10 % perdecade pada umur 45-75 tahun.
Penurunan tulang cortical berakhir pada umur 70-75 tahun
ü
Hasil akhir perubahan ini seumur hidup kira-kira 35%-23% pada wanita dan laki-laki berturut-turut
ü

b) Tulang Trabecular
 Serangan hilangnya tulang trabecular lebih dulu dari serangan kehilangan cortical
   pada wanita dan laki-laki.ü
 Rata-rata hilangnya tulang trabecular kira-kira 6%-8% perdecade
ü
 Setelah menopause, wanita terjadi kehilangan tulang trabecular secara cepat
ü
 Hasil akhir kehilangan seumur hidup kira-kira 50%- 33% pada wanita dan laki-laki seumur hidup
ü
c) Peningkatan resorbsi tulang oleh tubuh
d) Penurunan penyerapan kalsium
e) Serum parathyroid hormone meningkat
f) Gangguan regulasi aktivitas oesteoblast
g) Gangguan pembentukan tulang, sekunder untuk mengurangi matriks tulang
h) Penurunan jumlah fungsi sel marrow yang digantikan oleh jaringan sel lemak

II. Otot
Semua kegiatan sehari – hari (ADL) langsung dipengaruhi oleh fungsi otot, yang di kendalikan oleh saraf motorik. Perubahan yang berhubungan dengan usia berdampak besar pada fungsi otot, yaitu ;
Hilangnya masa otot sebagai hasil penurunan dalam ukuran dan jumlah serat otot
.
Penurunan serat otot dengan penggantian selanjutnya oleh jaringan penghubung dan akhirnya oleh jaringan lemak.
Penurunan membrane sel otot dan keluarya cairan dan potassium.
*
Dengan umur 80 tahun, kira-kira masa otot hilang (Tonna, 1987). Pada penjumlahan, terdapat kehilangan saraf motorik yang berhubungan dengan usia, dan ini mempengaruhi fungsi otot. Dan pada akhirnya perubahan yang berhubungan dengan usia adalah kemunduran fungsi motorik dan hilangnya kekuatan dan ketahanan otot.

III. Persendian
Penurunan viskositas cairan sinovial
Terbentuknya jaringan parut dan adanya kalsifikasi pada persendian.

Jaringan penghubung (kolagen dan elastin).

Kolagen sebagai protein pendukung utama pada kulit, tendon, tulang, kartilago, dan jaringan ikat mengalami perubahan menjadi bentangan cross linking yang tidak teratur. Bentangan yang tidak teratur dan penurunan hubungan tarikan linear pada jaringan kolagen merupakan salah satu alasan penurunan mobilitas pada jaringan tubuh. Setelah kolagen mencapai puncak fungsi atau daya mekaniknya karena penuaan, tensile strenght dan kekakuan dari kolagen mulai menurun.
Kolagen dan elastin yang merupakan jaringan ikat pada jaringan penghubung mengalami perubahan kualitatif dan kuantitatif sesuai penuaan. Perubahan pada kolagen itu merupakan penyebab turunnya fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa nyeri, penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot, kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri, jongkok dan berjalan, dan hambatan dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari.
Kartilago.
Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata. Selanjutnya kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung ke arah progresif. Proteoglikan yang merupakan komponen dasar matriks kartilago berkurang atau hilang secara bertahap. Setelah matriks mengalami deteriorasi, jaringan fibril pada kolagen kehilangan kekuatannya dan akhirnya kartilago cenderung mengalami fibrilasi. Kartilago mengalami kalsifikasi di beberapa tempat, seperti pada tulang rusuk dan tiroid. Fungsi kartilago menjadi tidak efektif, tidak hanya sebagai peredam kejut , tetapi juga sebagai permukaan sendi yang berpelumas. Konsekuensinya kartilago pada persendian menjadi rentan terhadap gesekan. Perubahan tersebut sering terjadi pada sendi besar penumpu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mudah mengalami peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatasan gerak dan terganggunya aktifitas sehari-hari (Andri, 2008).

3.3 Kelainan atau penyakit yang terjadi pada tulang dam muskulus skeletal.
Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dnegan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi dan hambatangerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali berhubungan dengan trauma maupun mikrotrauma yang berulang-ulang, obesitas, stress oleh beban tubuh dan penyakit-penyakit sendi lainnya.
Osteoporosis adalah penyakit metabolik tulang yang memiliki penurunan matrix dan proses mineralisasi yang yang normal tetapi massa atau densitas tulang berkurang (Gallagher, 1999). Osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria). Juga persediaan vitamin D yang adekuat, yang diperlukan untuk menyerap kalsium dari makanan dan memasukkan ke dalam tulang. Secara progresif, tulang meningkatkan kepadatannya sampai tercapai kepadatan maksimal (sekitar usia 30 tahun). Setelah itu kepadatan tulang akan berkurang secara perlahan. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis. Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Low back Pain dipersepsikan ketidak nyamanan berhubungan dengan lumbal atau area sacral pada tulang belakang ataui sekitar jaringan ( Randy Mariam,1987 ).Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara). Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999). Low Back Pain terjadi dilumbal bagian bawah,lumbal sacral atau daerah sacroiliaca,biasanya dihubungkan dengan proses degenerasi dan ketegangan musulo (Prisilia Lemone,1996).
Osteolisis adalah salah satu penyakit tulang yang berupa hancurnya tulang yang mungkin disebabkan oleh trauma atau kecelakaan berat dan juga mungkin disebabkan adanya kanker yang mengenai tulang.
Skoliosis Kongenitalis adalah suatu kelainan pada lengkung tulang belakang bayi baru lahir. Kelainan ini jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan gangguan pada pembentukan tulang belakang atau peleburan tulang rusuk. Skoliosis bisa menyebabkan kelainan bentuk yang serius pada anak yang sedang tumbuh, karena itu seringkali dilakukan tindakan pengobatan dengan memasang penyangga (brace) sedini mungkin. Jika keadaan anak semakin memburuk, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Sindroma Pierre Robin adalah sekelompok kelainan yang terutama ditandai dengan adanya rahang bawah yang sangat kecil dengan lidah yang jatuh ke belakang dan mengarah ke bawah. Bisa juga disertai dengan tingginya lengkung langit-langit mulut atau celah langit-langit. 
Clubfoot (talipes) adalah suatu keadaan dimana bentuk atau posisi kaki terpuntir.
Lengkung kaki bisa sangat tinggi atau kaki berputar ke dalam maupun ke luar.
Clubfoot sejati disebabkan oleh kelainan anatomis. Jika tidak terdapat kelainan anatomis, maka keadaan ini bisa diperbaiki dengan pemasangan gips dan terapi fisik. Pengobatan dini dengan gips bisa memperbaiki clubfoot sejati tetapi biasanya perlu dilakukan pembedahan.
Osteogenesis Imperfekta adalah suatu keadaan dimana tulang-tulang menjadi rapuh secara abnormal. Osteogenesis imperfekta merupakan suatu penyakit keturunan.
Penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada jumlah atau struktur kolagen tipe I, yang merupakan bagian penting dari tulang dll.


BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
            Sistem muskulus skeletal sistem otot berkaembang dari lapisan benih mesoderm (kecuali otot–otot iris, yang terbentuk dari ekstoderm piala optik dan terdiri dari otot rangka,otot polos, dan otot jantung, otot rangka berasal dari  mesoderm paraksial, yang membentuk somit dari daerah oksipital ke sakral dan somitomer dikepala. Otot polos berdeferensisai daro mesoderm splanknik disekitar usus dan derivat-derivatnya, dan otot jantung berasal dari mesoderm splanknik disekitar tabunh jantung.
Sedangkan Tulang adalah jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh matrix kolagen ekstraselular (type I collagen) yang disebut sebagai osteoid. Osteoid ini termineralisasi oleh deposit kalsium hydroxyapatite, sehingga tulang menjadi kaku dan kuat.
Untuk kelainan atau penyakit yang berhubungan dengan tulang dan muskulus skeletal antara lain sebagai berikut :
Ø  Penyakit Sendi Degeneratif (osteoartritis)
Ø  Osteoporosis
Ø  Low back Pain
Ø  Osteolisis
Ø  Skoliosis Kongenitalis
Ø  Sindroma Pierre Robin
Ø  Clubfoot (talipes)
Ø  Osteogenesis Imperfekta


DAFTAR PUSTAKA
Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Bintang Lamumpatue
Sadler,T.W.1991.Embriologi kedokteran langman.jakarta.EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar