kursor

iNi DiA..!!!!!

iNi DiA..!!!!!
ciiiLuuK baaaa...!!!!

Jumat, 15 April 2011

Gangguan konsep diri (jiwa)

Penyusunan Diagnosa Keperawatan pada Gangguan Konsep Diri
Oleh :
Moch dika priskia
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES PEMKAB JOMBANG
Jalan dr. Sutomo No. 75-77 Telp / Fax (0321) 870214 Jombang
SI KEPERAWATAN
 TAHUN PELAJARAN
2010-2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di zaman global seperti sekarang ini berakibat makin kompleks kebutuhan masyarakat.Industrialisasi dan urbanisasi makin lekat pada masyarakat.Ini berakibat makin banyaknya masalah pada kehidupan tidak terkecuali problem sosial.Kurangnya adaptasi untuk mengikuti trend itu menjadi masalah baru dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah,yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri,merasa gagal mencapai keinginan(Keliat, 1999).Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi,sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat.Beberapa tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri,merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu,gangguan hubungan sosial seperti menarik diri,percaya diri kurang,kadang sampai mencederai diri(Townsend, 1998)
1.2      Tujuan
1.      Menjelaskan pengartian ganguan konsep diri
2.      Menjelaskan rentang respon konsep diri
3.      Menjelaskan terjadinya gangguan konsep diri
4.      Menjelaskan proses terjadinya gangguan konsep diri
5.      Menjelaskan mekanisme koping gangguan konsep diri
6.      Menjelaskan masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
7.      Menjelaskan diagnose keperawatan
8.      Menjelaskan rencana tindakan keperawatan
BAB II
ISI
2.1      Pengertian
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri,termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa   gagal mencapai keinginan.Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara kronik,yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama.Gangguan harga diri rendah merupakan masalah bagi banyak orang dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai berat. Umumnya disertai oleh evaluasi diri yang negatif,membenci diri sendiri dan menolak diri sendiri (Keliat, 1998).
Evaluasi dari dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan (Townsend, MC, 1998).
Penilaian negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung (Schult & Videbeck, 1998).
Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi secara:
1.   Situasional:yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba,misalnya harus operasi, kecelakaan,dicerai suami,putus sekolah, putus hubungan kerja,perasaan malu karena sesuatu(korban perkosaan,ditubuh KKN,dipenjara tiba-tiba ).
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena:
a.       Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan fisik yang sembarangan,pemasangan alat yang tidak sopan(pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal).
b.      Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit.
c.       Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai,misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan,tanpa persetujuan.Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan fisik.
2.   Kronik,yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit atau dirawat.Klien mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon yang maladaptif.Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.
           
2.2      Rentang Respon Konsep Diri


Keterangan:
1.      Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan diterima.
2.      Konsep diri adalah apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri.
3.      Kerancuan identitas adalah kegagalan aspek individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikososial,kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
Depersonalisasi adalah      perasaan yang tidak realistic dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain. (Keliat, 1998)
2.3      Penyebab
Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik,kegagalan yang berulang kali,kurang mempunyai tanggung jawab personal,ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik.
Stressor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal, seperti:trauma fisik maupun psikis,ketegangan peran,transisi peran situasi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian,serta transisi peran sehat sakit sebagai transisi dari keadaan sehat dan keadaan sakit.(Stuart & Sundeen, 1991)
2.4      Proses Terjadinya Masalah
Individu yang kurang mengerti akan arti dan tujuan hidup akan gagal menerima tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain.Ia akan tergantung pada orang tua dan gagal mengembangkan kemampuan sendiri ia mengingkari kebebasan mengekspresikan sesuatu termasuk kemungkinan berbuat kesalahan dan menjadi tidak sabar,kasar dan banyak menuntut diri sendiri, sehingga ideal diri yang ditetapkan tidak tercapai.
Sedangkan stressor yang mempengaruhi harga diri rendah dan ideal diri adalah penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua dan orang yang berarti,pola asuh yang tidak tepat,misalnya terlalu dilarang,dituntut,dituruti, persaingan dengan saudara.Kesalahan dan kegagalan yang terulang,cita-cita yang tidak tercapai,gagal bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Harga diri rendah dapat terjadi karena adanya kegagalan atau berduka disfungsional dan individu yang mengalami gangguan ini mempunyai koping yang tidak konstruktif atau kopingnya maladaptive.
Resiko yang dapat terjadi pada individu dengan gangguan harga diri rendah adalah isolasi sosial: menarik diri karena adanya perasaan malu kalau kekurangannya diketahui oleh orang lain.(Stuart dan Sundeen,1991)
2.5      Mekanisme Koping
Menurut Keliat(1998),mekanisme koping pada klien dengan gangguan konsep diri dibagi dua yaitu:
1.      Koping jangka pendek
1.      Aktivitas yang memberikan kesempatan lari sementara dari krisis, misalnya:pemakaian obat, ikut musik rok,balap motor,olah raga berat dan obsesi nonton televisi.
2.      Aktivitas yang memberi kesempatan mengganti identitas,misalnya: ikut kelompok tertentu untuk mendapat identitas yang sudah dimiliki kelompok,memiliki kelompok tertentu,atau pengikut kelompok tertentu.
3.      Aktivitas yang memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri atau identitas diri yang kabur,misalnya:aktivitas yang kompetitif,olah raga,prestasi akademik,kelompok anak muda.
4.      Aktivitas yang memberi arti dari kehidupan,misalnya:penjelasan tentang keisengan akan menurunnya kegairahan dan tidak berarti pada diri sendiri dan orang lain.
2.      Koping jangka panjang
Semua koping jangka pendek dapat berkembang menjadi koping jangka panjang.Penyelesaian positif akan menghasilkan ego identitas dan keunikan individu.
Identitas negatif merupakan rintangan terhadap nilai dan harapan masyarakat.Remaja mungkin menjadi anti sosial,ini dapat disebabkan karena ia tidak mungkin mendapatkan identitas yang positif.Mungkin remaja ini mengatakan “saya mungkin lebih baik menjadi anak tidak baik”.
Individu dengan gangguan konsep diri pada usia lanjut dapat menggunakan ego-oriented reaction(mekanisme pertahanan diri)yang bervariasi untuk melindungi diri.Macam mekanisme koping yang sering digunakan adalah:fantasi,disosiasi,isolasi,proyeksi.
Dalam keadaan yang semakin berat dapat terjadi deviasi perilaku dan kegagalan penyesuaian sebagai berikut:psikosis,neurosis,obesitas, anoreksia,nervosa,bunuh diri criminal,persetubuhan dengan siapa saja, kenakalan,penganiayaan.
3.      Masalah keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan harga diri rendah adalah:
1.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah situasional atau kronik
2.      Gangguan citra tubuh
3.      Perubahan penampilan peran
4.      Ideal diri tidak realistik
5.      Ketidakberdayaan
6.      Isolasi sosial:menari diri(Keliat, 1998)
Akibat
Klien yang mengalami gangguan harga diri rendah bisa mengakibatkan gangguan interaksi sosial:menarik diri,perubahan penampilan peran, keputusasaan maupun munculnya perilaku kekerasan yang beresiko mencederai diri,orang lain dan lingkungan.(Keliat, 1998)
Pohon Masalah








Gangguan konsep diri : harga diri rendah
 



2.6      Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
1.   Masalah keperawatan
a.       Isolasi sosial:menarik diri
b.      Gangguan konsep diri:harga diri rendah
c.       Gangguan citra tubuh(Keliat, 1998)
2.   Data yang perlu dikaji
No
Data Subyektif
Data Obyektif
Analisi Data
Masalah Keperawatan
1.
Ø Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya
Ø Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli
Ø Mengungkapkan tidak bisa apa-apa
Ø Mengungkapkan dirinya tidak berguna
Ø Mengkritik diri sendiri
Ø Merusak diri sendiri
Ø Merusak orang lain
Ø Menarik diri dari hubungan sosial
Ø Tampak mudah tersinggung
Ø Tidak mau makan dan tidak tidur
Ø Patofisiologis (berhubungan dengan perubahan penampilan, gaya hidup,peran,respon terhadap hal-hal lain sekunder terhadap :
Penyakit kronis, trauma berat,nyeri, dll.
Masalah utama : Gangguan konsep diri : harga diri rendah
2.
Ø Mengkritik diri sendiri
Ø Mengungkapkan perasaan main terhadap diri sendiri
Ø Mengungkapkan malu dan tidak bisa bila diajak melakukan sesuatu
Ø Perasaan tidak mampu
Ø Perasaan negatif mengenai dirinya sendiri
Ø Tampak sedih dan tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan
Ø Wajah tarnpak murung
Ø Klien terlihat lebih suka sendiri
Ø Bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan
Hilangnya bagian dari tubuh, hilangnya fungsi tubuh
Masalah Keperawatan : Penyebab gangguan citra tubuh
3.
Ø Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi
Ø Mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain
Ø Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain
Ø Ekspresi wajah kosong
Ø Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara
Ø Suara pelan dan tidak jelas
Ø Situasional (berhubungan dengan perasaan-perasaan merasa ditinggalkan atau kegagalan sekuder terhadap :
Hilangnya pekerjaan, kehilangan fungsi
Masalah Keperawatan: Akibat Isolasi sosial : menarik diri
2.7        Diagnosa Keperawatan
1.      Isolasi sosial:menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
2.      Gangguan konsep diri:harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh.(Keliat, 1998)
2.8        Rencana Tindakan Keperawatan
1.      Diagnosa keperawatan:Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
1.      Tujuan umum
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
2.      Tujuan khusus
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya.
1.1.   Bina hubungan saling percaya dengan menerapkan prinsip komunikasi terapeutik:
1.1.1    Sapa klien dengan ramah secara verbal dan nonverbal
1.1.2    Perkenalkan diri dengan sopan
1.1.3    Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
1.1.4    Jelaskan tujuan pertemuan
1.1.5    Jujur dan menepati janji
1.1.6    Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
1.1.7    Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
2.   Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
2.1.   Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2.2.   Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.
2.3.   Utamakan memberi pujian yang realistik.
3.   Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
3.1.   Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilakukan.
3.2.   Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
4.   Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai  dengan kemampuan yang dimiliki.
4.1.   Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari.
4.2.   Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3.   Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
5.   Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya.
5.1.   Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
5.2.   Diskusikan pelaksanaan kegiatan di rumah
6.   Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
6.1.   Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
6.2.   Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
6.3.   Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah.
7.      Hasil yang diharapkan
1.      Klien mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita.
2.      Klien menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya (fisik, intelektual,sistem pendukung).
3.      Klien berperan serta dalam perawatan dirinya.
4.      Percaya diri klien menetapkan keinginan atau tujuan yang realistik.
2.      Diagnosa keperawatan:Gangguan konsep diri harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh.
a.       Tujuan umum
Klien menunjukkan peningkatan harga diri
b.      Tujuan khusus
1)      Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
1.1.   Bina hubungan perawat - klien yang terapeutik
1.2.   Salam terapeutik
1.3.   Komunikasi terbuka, jujur dan empati
1.4.   Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.Beri   kesempatan mengungkapkan perasaan klien terhadap perubahan tubuh.
1.5.   Lakukan kontrak untuk program asuhan keperawatan (pendidikan kesehatan,dukungan,konseling dan rujukan)
2)      Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh.
2.1.   Diskusikan perubahan struktur,bentuk atau fungsi tubuh
2.2.   Observasi ekspresi klien pada saat diskusi
3)      Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3.1.   Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki  (tubuh,intelektual,keluarga) oleh klien diluar perubahan yang terjadi
3.2.   Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki klien.
4)      Klien dapat menerima realita perubahan  struktur,bentuk  atau  fungsi tubuh.
4.1.   Dorong klien untuk merawat diri dan berperan serta dalam asuhan klien secara bertahap
4.2.   Libatkan klien dalam kelompok klien dengan masalah gangguan citra tubuh
4.3.   Tingkat dukungan keluarga pada klien terutama pasangan.
5)      Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang dihadapi.
5.1.   Diskusikan cara-cara (booklet,leaflet sebagai sumber informasi) yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur,bentuk atau fungsi tubuh
5.2.   Dorong klien memilih cara yang sesuai
6)      Klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh.
6.1.   Membantu klien mengurangi perubahan citra tubuh
6.2.   Rehabilitasi bertahap bagi klien
c.       Hasil yang diharapkan
1)      Klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
2)      Klien memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi.
BAB III
PENUTUP
3.1            Simpulan
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif. Seseorang yang mempunyai harga diri rendah biasanya seseorang tersebut akan merasa gagal mencapai keinginannya dan merupakan masalah bagi banyak orang dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai berat.
Menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri klien agar dapat memperbaiki hubungan sosial dengan orang lain serta lingkungannya merupakan upaya luhur yang harus dilakukan pada klien dengan harga diri rendah.
Menolong dan mendorong klien agar mampu bersikap positif terhadap diri sendiri maupun orang lain harus dilakukan sebagai upaya peningkatan rasa optimsme terhadap diri sendiri.
Untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan yang muncul pada klien, perlu dukungan dan motivasi dari berbagai pihak, namun sebenarnya yang paling utama adalah dukungan yang lahir dari keluarga.
Perawatan lebih lanjut oleh perawat ruangan maupun keluarga dibutuhkan dalam menunjang proses pemulihan klien walaupun saat ini kondisi klien tampak membaik.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall, 2007, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa: Yasmin Asih, Edisi 10, Jakarta : EGC
Sunaryo.2004.Psikologi untuk Keperawatan.Jakarta.EGC
Townsend, M.C. (1998) Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri untuk Pembuatan Rencana Keperawatan, Jakarta: EGC
http:/www.Scrid.com/doc/15418225/gangguan konsep diri
                       
   

Implementasi keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 1997).
Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien terkait dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi, pendidikan untuk klien-keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul dikemudian hari.
Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai dengan rencana keperawatan, perawat harus mempunyai kemampuan kognitif (intelektual), kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan keterampilan dalam melakukan tindakan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi. (Kozier et al., 1995).
Dalam Implementasi tindakan keperawatan memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain:
1)Individualitas klien, dengan mengkomunikasikan makna dasar dari suatu implementasi keperawatan yang akan dilakukan.
2) Melibatkan klien dengan mempertimbangkan energi yang dimiliki, penyakitnya, hakikat stressor, keadaan psiko-sosio-kultural, pengertian terhadap penyakit dan intervensi.
 3) Pencegahan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi. 4) Mempertahankan kondisi tubuh agar penyakit tidak menjadi lebih parah serta upaya peningkatan kesehatan.
5) Upaya rasa aman dan bantuan kepada klien dalam memenuhi kebutuhannnya.
6) Penampilan perawat yang bijaksana dari segala kegiatan yang dilakukan kepada
klien.
Beberapa pedoman dalam pelaksanaan implementasi keperawatan (Kozier et al,. 1995) adalah sebagai berikut:
1) Berdasarkan respons klien.
2)Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar pelayanan professional, hukum dan kode etik keperawatan.
3) Berdasarkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia.
4)Sesuai dengan tanggung jawab dan tanggung gugat profesi keperawatan.
5) Mengerti dengan jelas pesanan-pesanan yang ada dalam rencana intervensi keperawatan.
6) Harus dapat menciptakan adaptasi dengan klien sebagai individu dalam upaya meningkatkan peran serta untuk merawat diri sendiri (Self Care).
7) Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya peningkatan status kesehatan. Dapat menjaga rasa aman, harga diri dan melindungi klien.
9) Memberikan pendidikan, dukungan dan bantuan.
10) Bersifat holistik.
11) Kerjasama dengan profesi lain.
12) Melakukan dokumentasi
Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori dari implementasi keperawatan, antara lain: 1.Cognitive implementations, meliputi pengajaran/ pendidikan, menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi, memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan, mengawasi penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan lingkungan sesuai kebutuhan, dan lain lain.
2.Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan lain lain.
3.Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan dari data dasar klien, mengorganisir respon klien yang abnormal, melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan rujukan, dan lain-lain.
Sedangkan dalam melakukan implementasi keperawatan, perawat dapat melakukannya sesuai dengan rencana keperawatan dan jenis implementasi keperawatan. Dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis implementasi keperawatan, antara lain:
1.Independent implementations, adalah implementasi yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan kebutuhan, misalnya: membantu dalam memenuhi activity daily living (ADL), memberikan perawatan diri, mengatur posisi tidur, menciptakan lingkungan yang terapeutik, memberikan dorongan motivasi, pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-spiritual, perawatan alat invasive yang dipergunakan klien, melakukan dokumentasi, dan lain-lain.
2.Interdependen/ Collaborative implementations, adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan tim kesehatan lainnya, seperti dokter. Contohnya dalam hal pemberian obat oral, obat injeksi, infus, kateter urin, naso gastric tube (NGT), dan lain-lain. Keterkaitan dalam tindakan kerjasama ini misalnya dalam pemberian obat injeksi, jenis obat, dosis, dan efek samping merupakan tanggungjawab dokter tetapi benar obat, ketepatan jadwal pemberian, ketepatan cara pemberian, ketepatan dosis pemberian, dan ketepatan klien, serta respon klien setelah pemberian merupakan tanggung jawab dan menjadi perhatian perawat.
3.Dependent implementations, adalah tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain, seperti ahli gizi, physiotherapies, psikolog dan sebagainya, misalnya dalam hal: pemberian nutrisi pada klien sesuai dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fisik (mobilisasi fisik) sesuai dengan anjuran dari bagian fisioterapi.
Secara operasional hal-hal yang perlu diperhatikan perawat dalam pelaksanaan implementasi keperawatan adalah:
1.Pada tahap persiapan. a.Menggali perasaan, analisis kekuatan dan keterbatasan professional pada diri sendiri. b.Memahami rencana keperawatan secara baik. c.Menguasai keterampilan teknis keperawatan. d.Memahami rasional ilmiah dari tindakan yang akan dilakukan. e.Mengetahui sumber daya yang diperlukan. f.Memahami kode etik dan aspek hukum yang berlaku dalam pelayanan keperawatan. g.Memahami standar praktik klinik keperawatan untuk mengukur keberhasilan. h.Memahami efek samping dan komplikasi yang mungkin muncul. i.Penampilan perawat harus menyakinkan.
2.Pada tahap pelaksanaan. a.Mengkomunikasikan/ menginformasikan kepada klien tentang keputusan tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat. b.Beri kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya terhadap penjelasan yang telah diberikan oleh perawat. c.Menerapkan pengetahuan intelektual, kemampuan hubungan antar manusia dan kemampuan teknis keperawatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan oleh perawat. d.Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan tindakan adalah energi klien, pencegahan kecelakaan dan komplikasi, rasa aman, privacy, kondisi klien, respon klien terhadap tindakan yang telah diberikan.
3.Pada tahap terminasi. a.Terus memperhatikan respons klien terhadap tindakan keperawatan yang telah diberikan. b.Tinjau kemajuan klien dari tindakan keperawatan yang telah diberikan. c.Rapikan peralatan dan lingkungan klien dan lakukan terminasi. d.Lakukan pendokumentasian.

Selasa, 29 Maret 2011

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR MAKALAH

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Yang Dibimbimg Oleh drg effi kurniawati
oleh:
Moch.dhika priskia
100551088
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
STIKES PEMKAB JOMBANG
MARET 2011

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR.”
Tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari adanya banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik pembaca yang membangun demi kesempurnaan dalam makalah ini.
Harapan penyusun agar makalah ini berguna dan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, serta dapat menambah ilmu pengetahuan di bidang perencanaan pembelajaran.

Jombang, Maret 2011


Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan masalah 2
1.3 Tujuan masalah 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Ilmu sosial budaya dasar 4
2.2 Tujuan ilmu budaya dasar 5
2.3 Kelompok sosial 6
2.4 Interaksi sosial 7
2.5 Masalah-masalah sosial di masyarakat 10

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan 14
DAFTAR PUSTAKA 15

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Latar belakang diberikannya mata kuliah ilmu budaya dasar,selain melihat konteks budaya indonesia juga sesuai dengan program pendidikan di perguruan tinggi.Rapat rektor-rektor universitas/institut negeri se-indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 11 s/d 13 oktober 1971 di tugu menyimpulkan pentingnya pemberian mata kuliah basic social science (ilmu sosial dasar) dan basic humanities (ilmu budaya dasar ) dalam rangka penyempurnaan pembentukan sarjana.
Latar belakang IBD dalam konteks budaya,negara, dan masyarakat indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut :
a. Kenyataan bahwa bangsa indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaannya,yang biasanya tidak lepas dari ikatan – ikatan primordial,kesukuan, dan kedaerahan.
b. Proses pembangunan yang sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif dan dampak negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pegaruhnya.Akibat lebih jauh dari pembenturan nilai budaya ini ialah timbulnya konflik dalam kehidupan.
c. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya , sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakannya. Hal ini merupakan akibat sifat ambifalen teknologi , yang disamping memiliki segi – segi positifnya , juga memiliki segi-segi yang negatif. Akibat dampak negatif teknologi, manusia kini menjadi resah dan gelisah.

Konflik budaya tersebut acap kali bertaraf nasional oleh karena itu,seorang sarjana calon intelektual harus mampu mengenal dan menyadari adanya masalah semacam ini, memiliki wawasan yang luas tentang soal – soal kebudayaan, sehingga sanggup dan mampu memegang peranan dalam usaha – usaha pembangunan dan modernisasi.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
Masalah – masalah budaya adalah segala sistem atau tata nilai, sikap mental, pola berpikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi warga masyarakat secara keseluruhan. Atau dapat dikatakan bahwa masalah budaya adalah masalah tata nilai yang dapat menimbulkan krisis – krisis kemasyarakatan, misalnya terjadinya proses “dehumanisasi” atau pengurangan arti kemanusiaan seseorang.
Masalah – masalah budaya tersebut mencakup ;
1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya.
2. Hakikat manusia unteteiversal. Akan tetapi perwujudannya beraneka ragam. Ada kesamaan – kesamaan, tetapi juga ketidak seragaman yang diungkapkan secara tidak seragam, sebagaimana yang terlihat ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan pikiran dan perasaan, tingkah laku dan hasil kelakuan mereka.

1.3 Tujuan Masalah
Dari Rumusan masalah di atas tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
Untuk mengembangkan kepribadian , kepekaan , dan wawasan pemikiran yang berkenaan dengan kebudayaan agar daya tangkap , persepsi , dan penalaran mengenai lingkungan budaya mahasiswa dapat lebih manusiawi atau halus. Tujuan ilmu budaya dasar tersebut diharapkan dapat :
1. Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru , terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2. Memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3. Mengusahakan agar para mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengotakan disiplin yang ketat.
4. Menjembatani para akademisi kita agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan demikian satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
Ilmu Sosial Budaya Dasar mempunyai sebuah penjelasan di dalamnya. Secara sederhana ISBD adalah pengetahuan sosial pada masyarakat yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah ISBD dikembangkan pertama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities”.
Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang artinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya.
Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. Untuk mengetahui bahwa ilmu sosial budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan.
Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :
1. Ilmu-ilmu Alamiah ( natural scince ). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hokum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah
2. Ilmu-ilmu sosial ( social scince ) . ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.
3. Pengetahuan budaya ( the humanities ) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik,dll. Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan. Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Ingngris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahasa inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.
Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nlai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri. Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat :
1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3. Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.
4. Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam berkomunikasi.

B. KELOMPOK SOSIAL
Definisi kelompok sosial kelompok sosial adalah kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan dan rasa memiliki. Sekolah merupakan contoh kelompok sosial. Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:
• Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
• Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
• Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.
• Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran Pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok.

C. INTERAKSI SOSIAL

Pengertian interaksi sosial.
Manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat menimbulkan suatu proses interaksi sosial.
Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok” . Pendapat lain dikemukakan oleh Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilka Pengertian interaksi sosial.
Manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat menimbulkan suatu proses interaksi sosial.
Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok”. Pendapat lain dikemukakan oleh Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial” (p. 50).
“Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung” .Berdasarkan definisi di atas maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Macam - Macam Interaksi Sosial
Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu (p. 23) :. Inte
1. Interaksi antara individu dan individu
Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).
dan kelompok bermacam - macam sesuai situasi dan kondisinya.
3raksi sosial antara Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu kelompok dan kelompok Interaksi sosial kelompok.
2. Interaksi antara individu dan kelompok
kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek.
Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu (p. 49) :
1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a. Kerja sama
Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Akomodasi
Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok - kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
c. Asimilasi
Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
d. Akulturasi
Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur - unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari
kebudayaan itu sendiri.
2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :

a. Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.

b. Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c. Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.
Ciri - Ciri Interaksi Sosial
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain a. Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
b. Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
c. Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
d. Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu.
Syarat - Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dapat berlangsung jika memenuhi dua syarat di bawah ini, yaitu (p. 26) :
a. Kontak sosial
Adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dan masing - masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain meski tidak harus bersentuhan secara fisik.
b. Komunikasi
Artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain.
4.MASALAH-MASALAH SOSIAL DI MASYARAKAT
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial. Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dll.
4. Faktor Psikologis : Penyakit syaraf, aliran sesat, dll.
1. Faktor Ekonomi, faktor ini merupakan faktor terbesar terjadinya masalah sosial. Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di mana-mana dan bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit mencari pekerjaan.
2.Faktor Budaya, Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang berdampak negatif seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar suatu bangsa merekalah yang meneruskan perjuangan yang telah dibangun sejak dahulu
3.Faktor Biologis, Penyakit menular bisa menimbulkan masalah sosial bila penyakit tersebut sudah menyebar disuatu wilayah atau menjadi pandemik.
4.Faktor Psikologis,Aliran sesat sudah banyak terjadi di Indonesia dan meresahkan masyarakat walaupun sudah banyak yang ditangkap dan dibubarkan tapi aliran serupa masih banyak bermunculan di masyarakat sampai saat ini.
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb. masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
• Masalah budaya muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah budaya yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
• Masalah budaya dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor sosial : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
• tepatnya intervensi masalah sosial. disitu sdapat dipelajari bahwa antara faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya saling mempengaruhi satu sama lain. jika masalah sosial berasal dari faktor biologis, maka akan berdampak pula pada psikologis dan sosial budaya. contohnya: penyakit menular yang dialami seorang istri dapat berpengaruh pada perceraian dalam keluarganya (budaya), yang menyebabkan stress (psikologis).
• setiap aktivitas menurut saya berpotensi menghadirkan permasalahan sosial, maka dari itu diperlukan adanya pencegahan terhadap kemunculan permasalahan sosial. contoh :pernikahan dan kelahiran.
• secara kasat mata kedua hal tersebut adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan manusia. tetapi dari pernikahan itu bisa saja tejadi KDRT, perceraian, dan sebagainya. atau karena kelahiran, muncul masalah-masalah sosial seperti kepadatan penduduk, kematian ibu dan anak, dsb. oleh karena itu perlu ada langkah-langkah seperti penyuluhan, pendampingan dan usaha-usaha sosial dalam mencegah timbulnya masalah sosial. kalau sudah terjadi masalah, maka yang diperlukan adalah rehabilitasi sosial, seperti program suntik, pil, susuk atau lainnya dalam KB, menurut saya itu adalah upaya rehabilitasi sosial, khususnya bagi wilayah yang padat penduduknya, semisal china (untuk negara) atau jakarta (bagi sebuah pulau), tetapi penyuluhan bagaimana membangun KB, itu merupakan sebuah pencegahan bagi wilayah-wilayah yang jarang penduduknya. demikian juga dengan pagelaran musik dangdut di kampung-kampung, seperti sekarang yang baruterespos kembali.
• hal di atas diutarakan adalah perkara yang berpotensi menjadi masalah sosial. namun masalah sosial itu sendiri muncul karena faktor pemicu masalah. apa faktor pemicu masalah tersebut ? jelas, bahwa yang namanya masalah adalah sesuatuyang ingin dihindari, sesuatu yang tidak diharapkan, atau sesuatu yang dapat menimbulkan malapetaka.
• berbicara masalah porno aksi, maka sebenarnya ini merupakan salah satu pemicu masalah soaial. hal ini bisakita lihat, bahwa dari dulu, meskipun orang 'menggandrungi' aktivitas seks (karena naluri biologis sebagai makhluk hidup), namun manakala hal itu terjadi di muka umum, maka hal itu akan mendatangkan cacian, hinaan, dan berbagai sanksi psikologis, bahkan ada yang sampai dibakar atau dipukuli. untuk di indonesia, pelanggaran porno aksi masih menjadi bahan perdebatan, karena hingga kini aturan masalah tersebut tidak kunjung mendapat kepastian hukum, betul ?! (anda lebih tahu karena orang hukum). tapi tadi bisa kita lihat, meskipun sanksi dari normajhukum belum nampak jelas, namun sanksi dari berbagai norma telah menyalahkan aktivitas tersebut, norma kesopanan, menyalahkan, norma adat pun demikian, norma agama, tentu lebis tegas lagi. maka dari sini bisa kita simpulkan bahwa porno aksi (ditempat keramaian dan bukan dengan yang dihalalkan) merupakan sesuatu yang tidak diharapkan, baik oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, maupun masyarakat. allahu'alam
• terkait dengan adanya pagelaran dangdut, porno aksi, dan kaitannya dengan masalah ekonomi, sebenarnya yang menjadi permasalahan intinya, menurut saya (sebagai kalangan sosial, ilmu sosial) adalah ketidakadaannya ke-sinkron-an pola berpikir masyarakat dengan perilakunya. dimana mereka dalam pola berpikir (sebagai pedoman mereka bertindak)
1. untuk porno aksi (atau terkait aktivitas seksual) itu adalah hanyalah lingkup privat seseorang dengan pasangannya dan tabu untukdiumbar ke setiap orang, tetapi ada yang melakukannya demi alasan ekonomi.
2. pagelaran dangdut, meskipun tanpa porno aksi, sebenarnya tujuannya adalah memberikan hiburan, yang setiap orang memerlukan dan mencari hiburan, tinggal bagaimana merancang hiburan yang atraktif namundengantidak mengeksploitasi hal-hal yangterkait dengan seks. justru dengan adanya porno aksi dlam panggung hiburan, menunjukkan ketidak kreatifan penyelenggara hiburan itu sendiri. buktinya, rumah-rumah pelacuran atau warung remang-remang, mes
contoh masalah sosial dalam masyarakat
1. penganguran
2. kemiskinan
3. Kebodohan
4. pungutan liar
5. tuna wisma
6. penggusuran
7. Kebakaran
8. bencana alam
9. Kenaikan sembako

BAB III
PENUTUP
3.5 Kesimpulan
Jadi antara ilmu sosial budaya dengan masalah sosial itu saling berhubungan yang lainnya.Secara sederhana ISBD adalah pengetahuan sosial pada masyarakat yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.Kelompok sosial adalah kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.Interaksi sosial dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat Manusia dan menimbulkan suatu proses interaksi sosial manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain.Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam yaitu contoh masalah sosial dalam masyarakat.
1. penganguran
2. kemiskinan
3. Kebodohan
4.pungutan liar
5. tunawisma
6. penggusuran
7. kebakaran
8. bencanaalam
9. Kenaikansembako

DAFTAR PUSTAKA
1. AhmadiAbu.IlmuSosial Dasar.Gramedia.Jakarta;2003
2. PrasetyoJokoTri,Drsdkk.,IlmuBudaya Dasar.PT Rineka Cipta.Solo;1991
3. SoelaemanMunandarM.IlmuBudaya Dasar.Bandung;2000
4. http;//www.google.com/firefox?clien
5. http;//www.sosial-budaya.com

Sabtu, 26 Maret 2011

Konsep Dasar Sistem


KONSEP DASAR SISTEM
OLEH
  Moch dhika priskia utama (100501088)

STIKES PEMKAB JOMBANG
S 1 KEPERAWATAN TINGKAT 1-B
TAHUN AJARAN 2010-2011
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah  tentang  Konsep Dasar Sistem. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok semester Kedua S1 Keperawatan.
Kami menyadari, makalah ini dapat terselesaikan bukan hanya karena kemampuan dan usaha kami sendiri tetapi juga bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1.        Anis Satus S.Kep.Ns selaku dosen pembimbing kami.
2.        Teman-teman yang telah memberikan dukungan dan bekerja sama dalam pembuatan makalah ini.
3.        Semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembentukan makalah ini.
Kami juga menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari berbagai pihak sangat kami harapkan.
 Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam tugas-tugas anda.


Konsep Dasar Sistem

Konsep Dasar Sistem

Konsep Dasar Sistem

KONSEP DASAR SISTEM


OLEH
KELOMPOK IV
 Eka febrian rahayu (100501069)
 Indah dwi kurniawati (100501079)
 Moch dhika priskia utama (100501088)
 Novi purnama sari (100501090)
 Vicky risky (100501102)

STIKES PEMKAB JOMBANG
S 1 KEPERAWATAN TINGKAT 1-B
TAHUN AJARAN 2010-2011